Selasa, 20 Maret 2012

perkenalan jurnal dan buku besar


AKUNTANSI PERUSAHAAN  JASA
(Oleh: abdullah)

 

BAGIAN III : 

PROSES PENCATATAN TRANSAKSI KEUANGAN


A. KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN
            Setelah mempelajari bagian III dari modul ini, peserta pelatihan diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang cukup tentang proses pencatatan setiap transaksi keuangan ke dalam jurnal dan pemostingannya ke dalam akun/rekening buku besar serta  memiliki ketrampilan yang memadahi dalam melaksanakan pencatatan dan pemostingan tersebut. Penguasaan terhadap materi ini diharapkan dapat memberi bekal peserta pelatihan untuk dapat menyelenggarakan pembukuan perusahaan jasa terutama dalam hal pencatatan transaksi keuangan yang terjadi dan memostingkannya ke dalam akun-akun buku besar.

B. INDIKATOR
            Keberhasilan peserta pelatihan dalam mempelajari modul ini dapat diamati dan diukur dari indikator-indikator berikut ini.
  1. Kemampuan peserta pelatihan  menjelaskan fungsi jurnal
  2. Ketrampilan peserta pelatihan membuat buku jurnal
  3. Ketrampilan peserta pelatihan melakukan pencatatan setiap transaksi keuangan ke dalam jurnal
  4. Kemampuan peserta pelatihan menjelaskan fungsi akun/rekening buku besar
  5. Kemampuan peserta pelatihan menjelaskan bentuk-bentuk akun/rekening
  6.  Ketrampilan peserta pelatihan memosting ayat jurnal ke dalam akun terkait
  7. Kemampuan peserta pelatihan menjelaskan fungsi buku besar pembantu (buku bantu)
  8. Kemampuan peserta pelatihan menjelaskan akun-akun buku besar yang memerlukan buku bantu
  9. Ketrampilan peserta pelatihan menyelenggarakan buku bantu
  10.   Ketrampilan peserta pelatihan menyusun neraca sisa

C. PETUNJUK
                Materi tentang akuntansi perusahaan jasa yang disajikan dalam bagian III dari modul ini adalah ”Proses Pencatatan Transaksi Keuangan”. Urutan penyajiannya diatur sebagai berikut: (1) Jurnal Umum, meliputi: (a) fungsi , (b) bentuk, dan (c) proses pencatatan transaksi keuangan ke dalam jurnal; (2) Buku Besar, meliputi: (a) fungsi, (b) bentuk akun/rekening, (c) proses pemostingan; (3) Buku Besar Pembantu, meliputi: (a) fungsi, (b) akun-akun yang perlu disertai akun buku bantu, (c) proses penyusunan buku bantu; (4) Neraca Sisa.
Setiap uraian materi disertai dengan contoh-contoh kasus yang mungkin terjadi pada perusahaan jasa. Pelajari dengan seksama materi dan contoh-contoh yang disajikan pada Bagian III modul ini, agar Anda dapat memperoleh pemahaman dan ketrampilan yang bagus. Dengan menguasai materi ini, Anda akan dapat menyelenggarakan proses pencatatan transaksi keuangan.  Ukurlah tingkat penguasaan kompetensi yang telah Anda capai dengan menjawab dan mengerjakan soal-soal evaluasi di bagian akhir materi pembelajaran ini. Jika Anda merasa belum puas dengan hasil yang Anda capai, ulangi lagi sampai Anda merasa telah menguasainya dengan baik. Untuk memperkuat  pemahaman dan ketrampilan Anda, carilah kasus-kasus yang serupa dan kerjakanlah sampai tuntas. Dengan demikian,  Anda akan dapat mencapai kompetensi seperti yang diharapkan di atas.

 

D. URAIAN MATERI

 

Proses Pencatatan Transaksi Keuangan

1. Jurnal Umum (General Journal)
            Perlu Anda ingat kembali  uraian materi pada Bagian II modul ini. Pencatatan transaksi ke dalam persamaan dasar akuntansi seperti yang telah diuraikan pada bagian itu, di dalam pratiknya sangat tidak efisien, jika jenis dan frekuensi terjadinya transaksi keuangan di perusahaan cukup banyak. Namun proses pencatatan tersebut perlu dipelajari dan dikuasai sebagai dasar untuk melatih ketrampilan kita dalam menganalisis pengaruh dari suatu transaksi keuangan terhadap asset/aktiva, hutang/kewajiban dan modal/ekuitas pemilik perusahaan. Jika kita memiliki pemahaman dan ketrampilan yang cukup baik dalam  menyusun persamaan dasar akuntansi, maka hal ini akan membantu meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan kita dalam menyelenggarakan proses pencatatan transaksi keuangan.
Anda tentunya sudah mengetahui bahwa proses pencatatan diawali dengan adanya transaksi keuangan. Setiap transaksi keuangan yang dilakukan oleh perusahaan harus didasari dan dibuktikan dengan ’bukti transaksi’. Bukti transaksi yang dimaksud bisa berupa bon, kuaitansi (penerimaan atau pembayaran uang tunai), faktur pembelian, faktur penjualan, dan/atau bukti-bukti lainnya yang mendukung terjadinya transaksi keuangan. Berdasarkan bukti transaksi inilah, selanjutnya kita dapat menyelenggarakan pencatatan transaksi keuangan.

a) Fungsi Jurnal
Kita mengetahui bahwa proses pencatatan transaksi keuangan dimulai dari penyelenggaraan jurnal. Jurnal merupakan catatan  secara kronologis tentang pendebitan dan pengkreditan akun/rekening tertentu sebagai akibat dari suatu transaksi keuangan disertai dengan penjelasan yang diperlukan.  Catatan yang ada di dalam buku jurnal (biasanya disebut jurnal) merupakan sumber utama dari catatan-catatan lain dan keterangan-keterangan tentang transaksi keuangan perusahaan, karena catatan di dalam jurnal merupakan catatan asli tentang semua transaksi keuangan yang terjadi di perusahaan.   Oleh karena itu, kita dapat mengambil simpulan bahwa jurnal memiliki fungsi: (1) mencatat, (2) historis, (3) analisis, (4) instruktif, dan (5) informatif.
(1)      Jurnal memiliki fungsi mencatat karena semua transaksi keuangan yang terjadi di perusahaan harus dicatat di dalamnya.  Informasi yang harus dicatat di jurnal, selain akun yang harus di debit dan di kredit juga disertai dengan keterangan yang dianggap penting terkait dengan transaksi keuangan tersebut. Dengan demikian, akan memberi kemudahan untuk mencari kembali dan mencek transaksi tertentu jika diperlukan di kemudian hari.
(2)      Jurnal memiliki fungsi historis karena pencatatan di dalamnya harus dilakukan secara kronologis, artinya pencatatan harus dilakukan menurut urut-urutan waktu  terjadinya  setiap transaksi keuangan. Dengan demikian, catatan di dalam jurnal dapat menunjukkan sejarah atau perkembangan kegiatan perusahaan  secara urut (kronologis) dari waktu ke waktu.
(3)      Jurnal memiliki fungsi analisis karena informasi yang dicatat di dalamnya merupakan hasil analisis dan pertimbangan petugas di bidang akuntansi. Analisis  dilakukan untuk menentukan pengaruh transaksi keuangan terhadap aktiva, kewajiban, dan modal, sehingga dapat ditentukan akun apa yang harus di debit dan akun apa yang harus di kredit, serta berapa besar nilainya masing-masing. Hasil analisis  inilah yang dicatat di dalam jurnal (ingat fungsi mencatat).
(4)      Jurnal memiliki fungsi instruktif  karena  bunyi ayat jurnal sebenarnya merupakan ‘perintah’ untuk mendebit akun tertentu (yang disebut terlebih dulu) dengan jumlah tertentu dan juga mengkredit akun tertentu (yang disebut kemudian dan ditulis agak ke kanan) dengan jumlah tertentu pula.
(5)      Jurnal memiliki fungsi informatif. karena dari dalam jurnal dapat diperoleh informasi secara detail tentang transaksi keuangan yang telah dilakukan oleh perusahaan. Informasi-informasi penting itu antara lain berupa tanggal terjadinya transaksi, berbagai akun  yang di debit dan yang dikredit beserta nilainya masing-masing, pihak yang berhubungan dengan terjadinya transaksi itu, tentang apa saja transaksi yang terjadi itu dan sejenisnya. Dengan demikian, jika kita memerlukan informasi tentang suatu transaksi keuangan dapat dicari di dalam jurnal.
Berdasarkan fungsi jurnal seperti yang diuraikan di atas dapat kita ketahui bahwa penyelenggaraan jurnal dapat memberi berbagai keuntungan  berikut:
(1)     tersedia alat pencatat akun-akun yang terpengaruh oleh adanya transaksi keuangan, sehingga dapat diketahui akun yang di debit dan yang di kredit lengkap dengan besaran  nilainya masing-masing, serta keterangan penting lain yang dicatat di dalamnya
(2)     tersedia alat pencatat  transaksi keuangan secara kronologis sehingga dapat memberi gambaran lengkap dan menyeluruh tentang semua  transaksi keuangan yang telah dilakukan oleh perusahaan dari hari ke hari atau dari waktu ke waktu, sehingga dapat diketahui perkembangannya
(3)     tersedia data berupa catatan dalam satu buku bahkan satu lembar untuk mengoreksi seandainya terjadi kesalahan dalam menganalisis akibat suatu transaksi keuangan atau dalam mencatat akibat suatu transasksi keuangan ke dalam jurnal. Tanpa jurnal akan sulit mencari letak terjadinya kesalahan jika mungkin terjadi kesalahan, misalnya:
(a)    lupa mendebit atau mengkredit suatu akun
(b)   mendebit atau mengkredit pada sisi akun yang salah (seharusnya di debit tetapi keliru di kredit dan sebaliknya)

b) Bentuk Jurnal
            Di dalam praktik dapat dijumpai berbagai bentuk jurnal. Ada jurnal umum biasa, ada jurnal umum berkolom, dan ada pula jurnal-jurnal khusus dengan kolom-kolom tertentu yang digunakan untuk mencatat transaksi keuangan yang khusus pula.
Bentuk jurnal  yang digunakan oleh perusahaan sangat tergantung pada ukuran (besar kecilnya) dan sifat operasinya, karena hal itu akan menentukan jenis dan frekuensi terjadinya transaksi keuangan. Perusahaan jasa apa lagi yang skala usahanya masih kecil, pada umumnya menggunakan jurnal umum biasa. Pada bagian ini, bentuk jurnal yang dibahas adalah bentuk jurnal umum yang biasa, seperti contoh berikut ini.
 


                                                            JURNAL UMUM                                 halaman …
Tanggal
Akun-akun dan Keterangan
Ref
Debit
Kredit































Keterangan:
(1)      Di atas kolom buku jurnal (di tengah-atas)  di tulis jenis jurnal atau nama jurnal yang dimaksud, misalnya jurnal umum seperti contoh itu dan di bagian kanan atas ditulis halaman dan nomor urutnya.
(2)      Kolom tanggal diisi dengan tanggal, bulan, dan tahun terjadinya transaksi keuangan yang ditulis di dalam jurnal itu. Tahun ditulis di bagian atas kolom ini dan biasanya hanya ditulis sekali dalam setahun. Nama bulan ditulis pada baris pertama setelah tahun dan biasanya ditulis sekali dalam sebulan atau selembar. Tanggal ditulis sesuai dengan terjadinya transaksi keuangan yang dicatat itu.
(3)      Kolom Akun-akun dan Keterangan diisi dengan nama akun yang harus di debit dan nama akun yang harus di kredit dilengkapi dengan keterangan penting dari transaksi keuangan tersebut.
(4)      Kolom Ref. (Reference) diisi dengan nomor akun, agar mempermudah mencari kaitan antara akun dengan jurnal. Kolom ini diisi setelah ayat jurnal tersebut diposting ke akun yang bersangkutan.
(5)      Kolom Debit diisi dengan jumlah nilai akun yang harus di debit.
(6)      Kolom Kredit diisi dengan jumlah nilai akun yang harus di kredit

c) Proses Pencatatan Transaksi Keuangan Ke Dalam Jurnal
            Anda perlu selalu mengingat bahwa setiap ada transaksi keuangan (tanpa terkecuali), harus dicatat di dalam jurnal. Tidak dapat dibenarkan jika ada transaksi keuangan yang ‘lupa’ tidak dicatat ke jurnal.  Oleh karena itu, pencatatan harus dilaksanakan sesegera mungkin setelah transaksi keuangan terjadi.
            Marilah kita ikuti contoh pengisian jurnal dari transaksi keuangan berikut:
Pada tahun 2008 Pak Budi memulai usaha menjahit yang diberi nama ’Penjahit Anggun’. Beberapa transaksi yang dilakukan pada awal bulan Januari sebagai berikut:

Januari 1 : Budi menginvestasikan uang tunai ke dalam perusahaannya Rp 1.000.000,00
Januari 2 : Dibeli sebuah mesin jahit dari ‘Toko Maju’ seharga Rp 750.000,00 yang akan dibayar 3 bulan lagi.
Januari 3: Dibeli secara tunai perlengkapan  menjahit seharga Rp 250.000,00
Januari 5: menyelesaikan pekerjaan menjahit 3 setel pakaian wanita dan diterima ongkos menjahit sebesar Rp 225.000,00
Januari 6: membayar sewa tempat usaha sebesar Rp 30.000,00 untuk jangka waktu sebulan.
Januari  8: membayar biaya keamanan untuk bulan Januari sebesar Rp 20.000,00
Januari 10: menyelesaikan pekerjaan menjahit 2 setel pakaian pria dengan ongkos  sebesar Rp 250.000,00 akan dibayar dua minggu lagi
Pencatatan transaksi-transaksi keuangan tersebut ke dalam Jurnal Umum dilakukan sebagai berikut:

                                                            JURNAL UMUM                                 halaman 1
Tgl
Keterangan
Ref
Debit (Rp)
Kredit (Rp)
2008




Jan. 1
Kas

1.000.000


     Modal


1.000.000

Investasi pemilik (Budi) berupa uang tunai Rp 1.000.000,00



2
Inventaris

750.000


       Hutang Dagang


750.000

Pembelian mesin jahit dari Toko Maju, kredit 3 bulan Rp 750.000,00



3
Perlengkapan Jahit

250.000


      Kas


250.000

Pembelian perlengkapan menjahit tunai  Rp 250.000,00



5
Kas

225.000


       Penghasilan jasa


225.000

Pendapatan dari hasil menjahit 3 setel pakaian wanita Rp 225.000,00



6
Beban Sewa

30.000


        Kas


30.000

Membayar sewa tempat usaha jangka waktu sebulan Rp 30.000,00



8
Beban Keamanan

20.000


         Kas


20.000

Membayar biaya keamanan bulan ini sebesar Rp 20.000,00



10
Piutang Jasa

250.000


       Penghasilan jasa


250.000

Pendapatan dari hasil menjahit 2 setel pakaian pria Rp 250.000,00 dan akan dibayar 2 minggu lagi





Catatan: Pengisian kolom Ref. dilakukan pada saat melakukan posting, yaitu pemindahan
 dari ayat jurnal ke dalam akun buku besar

Contoh lain, untuk memberi pemahaman yang lebih mendalam tentang penyelenggaraan jurnal, marilah kita mengingat kembali transaksi keuangan yang terjadi pada Salon Sekarkedaton  milik Ny. Ayu, yang beralamat di Jl. Joyo Utomo 504 Malang selama bulan Januari 2007 yang telah dipaparkan pada Bagian II Modul ini. Bukalah kembali Bagian II tersebut. Transaksi selama bulan Januaru itu jika dicatat di dalam jurnal umum akan tampak sebagai berikut ini.
                                                            JURNAL UMUM                                 halaman 1
Tgl
Keterangan
Ref
Debit (Rp)
Kredit (Rp)
2007




Jan. 1
Kas

1.000.000


     Modal


1.000.000

Investasi pemilik (Ny Ayu) berupa uang tunai Rp 1.000.000,00



2
Peralatan Salon

300.000


      Kas


300.000

Pembelian peralatan salon secara tunai  Rp 300.000,00



5
Beban Sewa

100.000


        Kas


100.000

Membayar sewa tempat usaha bulan Januari  Rp 100.000,00



7
Peralatan Salon

500.000


Perlengkapan Salon

200.000


        Hutang Dagang


700.000

Membeli kredit dari Toko Makmur peralatan salon Rp 500.000,00 dan perlengkapan salon Rp200.000,00



9
Kas

750.000


        Hutang Wesel


750.000

Menandatangani wesel jangka 3 bulan  Rp750.000,00 dari bank bunga 12% per tahun



14
Kas

450.000


        Penghasilan Jasa


450.000

Hasil merias pengantin putri Ny. Yuli Rp 450.000,00 dibayar tunai



15
Beban Gaji

150.000


         Kas


150.000

Dibayar gaji pegawai untuk bulan Januari Rp 150.000,00



20
Kas

250.000


Piutang Usaha

300.000


        Penghasilan Jasa


550.000

Hasil merias pengantin Harmini Rp 550.000,00 dibayar Rp 250.000 sisanya dibayar Februari 2007





                                                            JURNAL UMUM                                 halaman 2
Tgl
Keterangan
Ref
Debit (Rp)
Kredit (Rp)
2007




Jan. 22
Hutang Dagang

200.000


     Kas


200.000

Angsur  utang ke Toko Makmur sebesar  Rp 200.000,00



25
Beban Listrik

75.000


      Kas


75.000

Membayar rekening listrik bulan Januari Rp 75.000,00



29
Kas

150.000


         Piutang Usaha


150.000

Ditrima angsuran utang Ibu Harmini  sebanyak Rp 150.000,00



30
Pengambilan Prive

100.000


          Kas


100.000

Ny. Ayu ambil uang Rp 100.000,00 untuk kepentingan pribadinya.



31
Beban Bunga

7.500


           Kas


7.500

Dibayar bunga hutang wesel bulan Januari sebesar  Rp 7.500,00




            Transaksi Salon Sekarkedaton selama bulan Januari itu, setelah dicatat di dalam jurnal memerlukan 2 (dua) halaman, sehingga nomor halaman diisi 1 untuk halaman pertama dan 2 untuk halaman ke dua. Cara mencatat semacam ini dilakukan terus sepanjang periode. Kolom Ref. (Reference) masih kosong, karena belum ada ayat jurnal yang di posting ke akun buku besar. Pengisian kolom itu dilakukan bersamaan dengan saat memosting kea kun yang terait.

2. Akun Buku Besar
Pada dasarnya, setiap transaksi keuangan (didukung dengan bukti transaksi) yang terjadi di perusahaan dapat langsung dicatat ke dalam akun-akun buku besar yang terkait. Namun, model pencatatan secara langsung dari bukti transaksi ke dalam akun buku besar, dalam praktiknya di perusahaan (terutama perusahaan besar) sangat menyulitkan, lebih-lebih jika kita harus mengkoreksi kembali pembukuan yang telah kita lakukan. Hal ini disebabkan oleh tidak tampaknya satu transaksi pada satu halaman buku/catatan. Untuk keperluan tersebut akan lebih mudah jika pencatatan transaksi keuangan  diawali dengan jurnal. Secara skematis, proses pencatatan transaksi keuangan dapat digambarkan seperti bagan berikut ini.
Akun-akun Buku Besar
 

Jurnal
 
Bukti Transaksi
 
Transaksi Keuangan
 
                                              

 



Proses Pencatatan Transaksi Keuangan
Keterangan:
Setelah terjadi transaksi keuangan  beserta bukti pendukungnya, dibuatkan bukti transaksi sebagai dasar pencatatan ke dalam jurnal, selanjutnya ayat-ayat jurnal yang ada dicatat atau diposting  ke akun buku besar yang sesuai.

a) Fungsi Akun Buku Besar
Akun atau rekening adalah catatan yang sistematis tentang aset/aktiva, kewajiban/hutang, modal/ekuitas pemilik, biaya/beban, dan penghasilan/pendapatan yang ada di perusahaan atau entitas ekonomi tertentu. Setiap akun (account) yang disebut juga rekening digunakan untuk mencatat transaksi keuangan yang sejenis. Akun merupakan bagian dari buku besar (sub-ledger). Kumpulan dari akun-akun ini membentuk satu buku yang disebut buku besar (ledger). Penyusunan akun merupakan upaya untuk menggolongkan/mengelompokkan dan meringkas perubahan-perubahan yang terjadi karena adanya transaksi keuangan.
            Untuk menyediakan  informasi tentang  nilai aktiva, kewajiban, modal, beban, dan penghasilan setiap saat, maka  transaksi keuangan yang sejenis perlu dikelompokkan dan dicatat ke dalam sebuah akun (account) buku besar tersebut. Dengan demikian, jika kita membaca buku besar akan dapat diperoleh penjelasan tentang kenaikan dan penurunan aktiva, kewajiban, modal, beban, dan pendapatan.
            Jumlah dan jenis akun yang dibuat oleh perusahaan sangat bervariasi, tergantung pada skala (besar kecilnya) usaha dan sifat operasinya. Semakin besar skala usaha perusahaan dan semakin kompleks sifat usahanya, maka semakin banyak akun yang harus dibuat. Namun, seberapapun banyaknya akun yang dibuat oleh suatu perusahaan, secara umum dapat dikelompokkan menjadi 5 (lima) kelompok, yaitu akun-akun aktiva, akun-akun biaya/beban, akun-akun kewajiban, akun-akun modal, dan akun-akun penghasilan. Masing-masing kelompok akun tersebut masih dapat dibuat akun yang lain.
            Mengingat bahwa jumlah akun untuk masing-masing kelompok (aktiva, beban, kewajiban, modal, dan penghasilan) tersebut dapat dibuat dalam jumlah yang banyak (sebanyak yang diperlukan), maka setiap akun perlu diberi kode atau nomor akun. Pemberian kode ini akan mempermudah bagi kita untuk mengetahui hubungan antara satu akun dengan akun yang lain. Oleh karena itu, sistem pemberian kode harus sistematis dan mengikuti sistem/cara tertentu sehingga mudah dipahami  oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
            Untuk memberi kode akun, kita dapat menggunakan salah satu dari 4  (empat) sistem, yaitu  nomerical, decimal, mnemonic, atau kombinasi huruf dan angka.
(1)        Sistem numerical merupakan sistem pemberian kode akun dengan menggunakan angka. Cara ini paling mudah, sehingga banyak  digunakan di dalam praktik. Misalnya, kelompok akun aktiva diberi kode 100 sampai 299, dengan rincian aktiva lancar diberi  kode  100 – 199 dan aktiva tetap diberi kode 200 – 299. Untuk kelompok akun hutang diberi kode 300 – 399; kelompok akun modal diberi kode 400 – 499, kelompok akun beban diberi kode 500 – 599, dan kelompok akun penghasilan diberi kode 600 – 699. Sebagai contoh 101 untuk akun Kas; 2003 untuk akun Investasi, 505 untuk akun Beban Sewa, 601 untuk Penghasilan Jasa  dan sejenisnya.
(2)        Sistem decimal merupakan sistem pemberian kode akun dengan menggunakan angka dasar 0 – 9. Angka yang paling depan merupakan kode kelompok akun, disusul dengan angka-angka lain yang merupakan bagian dari kelompok akun tersebut. Penulisan antara angka yang satu dengan angka yang menyertai diberi tanda titik (.). Sebagai contoh, kelompok akun Penghasilan diberi kode 6; kode 6.0 untuk akun Penghasilan Jasa; 6.0.1 untuk akun Penghasilan Jasa Potong Rambut; 6.0.2 untuk akun Penghasilan Jasa Rias; 6.0.2.1 untuk akun Penghasilan Jasa Rias Wajah, 6.0.2.1  untuk akun Penghasilan Jasa Rias Pengantin dan seterusnya.
(3)        Sistem  mnemonic merupakan sistem pemberian kode akun dengan menggunakan huruf.  Huruf yang digunakan untuk kode suatu akun bisa diambil dari singkatan nama akun. Sebagai contoh,  aktiva lancar diberi kode AL, akun Kas diberi kode ALK. Kelompok akun penghasilan diberi kode P, akun Penghailan Jasa Rias Wajah diberi kode PJRW, akun Penghasilan Jasa Rias Pengantin diberi kode PJRP dan sejenisnya. Dibandingkan dengan dua sistem yang dibahas terdahulu, sistem ini kurang fleksibel dan lebih sulit diterapkan, karena besar kemungkinan terjadi kesamaan huruf awal dari beberapa akun.  Oleh karena itu perlu dibuat kunci (pedoman) yang rinci untuk mempermudah penggunaan sistem ini
(4)        Sistem kombinasi huruf dan angka merupakan sistem pemberian kode akun dengan menggunakan kombinasi antara huruf dengan angka. Penggunaan huruf bisa diambil dari singkatan nama kelompok akun, kemudian diikuti dengan angka untuk menunjukkan akun bagiannya. Misalnya untuk akun Penghasilan diberi kode P, Jasa diberi kode 2, Rias Wajah diberi kode 55. Jadi, akun Penghasilan Jasa Rias Wajah diberi kode: P-2-55. Penerapan sistem ini relatif rumit, tetapi dapat memberi gambaran lebih jelas dibandingkan dengan sistem pemberian kode dengan huruf.  
             
b) Bentuk Akun/Rekening
            Di dalam praktik, kita dapat menyusun akun buku besar yang praktis, mudah dilaksanakan, dan mudah dipahami isinya. Bentuk akun yang disusun oleh perusahaan disesuaikan dengan keperluan dan kemudahannya untuk dilaksanakan. Secara umum bentuk akun dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu bentuk skontro yang lazim disebut akun huruf T dan bentuk berlajur. Kedua bentuk akun yang dimaksud  disajikan pada bagian berikut:
a)      Bentuk Skontro (T Account)
                                                            Nama Akun                          Kode (No) Akun:
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit

























            Akun yang berbentuk skontro (huruf T), memisahkan secara tegas sisi Debit (D) dan sisi Kredit (K). Keunggulan akun bentuk ini dapat membedakan penulisan akibat transaksi pada kedua sisi secara tegas. Bagi pemula (yang baru belajar pembukuan) akun ini akan memudahkan. Kelemahannya, saldo akun tidak dapat diketahui  secara langsung, karena harus menjumlah sisi D dan sisi K selanjutnya dikurangkan.





b) Bentuk Berlajur
                                                            Nama Akun                             Kode (No) Akun:
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Kredit
Saldo





Debit
Kredit





















           
Atau:
                                                            Nama Akun                             Kode (No) Akun:
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Kredit
D/K
Saldo





























            Dari tiga bentuk akun yang disajikan di atas, tampak bahwa semuanya mengandung dua tempat menulis jumlah, yakni sisi D dan sisi K. Hal yang perlu ditegaskan adalah bahwa D dan K hanya menunjuk letak, yakni sisi kiri (D) dan sisi kanan (K). Aturan pembukuan suatu jumlah sebagai akibat dari transaksi  keuangan ke dalam akun-akun ke sisi D atau sisi K harus konsisten. Telah disepakati dan diterima  secara umum, prosedur pendebitan dan pengkreditan akun adalah sebagai berikut:
a) Semua akun yang termasuk kelompok aktiva:
     jika bertambah dibukukan di sisi D
     jika berkurang dibukukan di sisi K
b) Semua akun yang termasuk kelompok hutang:
     jika bertambah dibukukan di sisi K
     jika berkurang dibukukan di sisi D
c) Semua akun yang termasuk kelompok modal:
    jika bertambah dibukukan di sisi K
     jika berkurang dibukukan di sisi D
            Jika aturan pembukuan tersebut disajikan dalam bentuk bagan maka akan tampak seperti berikut ini.


D             Aktiva         K

D         Hutang            K

D         Modal          K


=


+


+
-

-
+

-
+

            Perlu juga kita ingat bahwa khusus untuk akun modal dapat bertambah atau berkurang sebagai akibat dari faktor-faktor berikut:
a) investasi dan penghasilan menyebabkan bertambahnya akun modal
b) beban dan prive (pengambilan)  menyebabkan berkurangnya akun modal
c) prive (penyetoran) menyebabkan bertambahnya akun modal
Jika setiap faktor penyebab bertambah dan/atau berkurangnya  modal tersebut dibuka akun tersendiri, maka aturan pembukuannya harus mengikuti aturan akun modal.
a) Investasi oleh pemilik, dapat dibukukan langsung ke akun modal sisi K
b) Akun Penghasilan:
     jika bertambah bukukan di sisi K
     jika berkurang bukukan di sisi D
c) Akun Biaya atau Beban
     jika bertambah bukukan di sisi D
     jika berkurang bukukan di sisi K
d) Akun Prive
     jika bertambah bukukan di sisi K
     jika berkurang bukukan di sisi D
            Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat memperoleh gambaran bahwa sangat banyak akun yang mungkin dibuat oleh suatu perusahaan. Kelompok akun aktiva bisa terdiri atas banyak akun, demikian pula 4 (empat) kelompok akun yang lainnya.
Sekalipun akun yang dibuat bisa sangat banyak, namun sebenarnya  seluruh akun tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu akun riil dan akun nominal.
a)      Akun riil adalah akun yang selalu ada sepanjang perusahaan masih melaksanakan kegiatan usaha.  Akun ini terdiri atas akun aktiva, hutang, dan modal. Pada akhir periode, akun ini ditutup dan saldonya dilaporkan di neraca. Secara normal, kelompok akun aktiva akan memiliki saldo debit, sedangkan  kelompok akun hutang dan modal memiliki saldo kredit. Akun ini akan dibuka kembali pada awal periode dengan saldo sesuai dengan jumlah yang dilaporkan di dalam neraca.
b)      Akun nominal adalah akun yang diadakan pada perjalanan periode yang terdiri atas akun beban dan penghasilan. Akun ini berfungsi sebagai pembantu modal, diadakan untuk menampung bertambah atau berkurangnya modal sepanjang periode akuntansi berjalan. Pada akhir periode akun  ini ditutup dan diperhitungkan saldonya untuk dilaporkan pada laporan laba/rugi.

c) Proses Pemostingan
            Transaksi keuangan yang telah dianalisis dan dicatat di dalam jurnal, secara periodik akan diposting atau dipindahbukukan ke dalam akun yang terkait. Pada saat pemostingan ayat-ayat jurnal tersebut,  kolom Reference dari jurnal diisi dengan kode (nomor) akun, sedangkan  kolom Reference pada akun diisi dengan halaman jurnal.
            Untuk berlatih, marilah kita memosting jurnal dari transaksi Salon Sekarkedaton.  Agar lebih ringkas, jurnal tersebut kita hilangkan  keterangannya. Hasil pemostingan adalah sebagai berikut ini.
                                                JURNAL UMUM                                 halaman 1
Tgl
Keterangan
Ref
Debit (Rp)
Kredit (Rp)
2007




Jan. 1
Kas
101
1.000.000


     Modal
401

1.000.000
2
Peralatan Salon
205
300.000


      Kas
101

300.000
5
Beban Sewa
504
100.000


        Kas
101

100.000
7
Peralatan Salon
205
500.000


Perlengkapan Salon
107
200.000


        Hutang Dagang
301

700.000
9
Kas
101
750.000


        Hutang Wesel
303

750.000
14
Kas
101
450.000


        Penghasilan Jasa
601

450.000
15
Beban Gaji
501
150.000


         Kas
101

150.000
20
Kas
101
250.000


Piutang Usaha
102
300.000


        Penghasilan Jasa
601

550.000



                                                            JURNAL UMUM                                 halaman 2
Tgl
Keterangan
Ref
Debit (Rp)
Kredit (Rp)
2007




Jan. 22
Hutang Dagang
301
200.000


     Kas
101

200.000
25
Beban Listrik
503
75.000


      Kas
101

75.000
29
Kas
101
150.000


         Piutang Usaha
102

150.000
30
Pengambilan Prive
404
100.000


          Kas
101

100.000
31
Beban Bunga
508
7.500


           Kas
101

7.500


                                                            Kas                           Kode (No) Akun: 101
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit
1/1
Setoran Ny Ayu
j-1
1.000.000
2/1
Peral Salon
J-1
300.000
9/1
Hutang Wesel
J-1
750.000
5/1
Beban Sewa
J-1
100.000
14/1
Penghasilan Jasa
J-1
450.000
15/1
Beban Gaji
J-1
150.000
20/1
Penghasilan Jasa
J-1
250.000
22/1
Angsur hutang
J-2
200.000
29/1
Piutang Usana
J-2
150.000
25/1
Beban Listrik
J-2
75.000




30/1
Prive
J-2
100.000




31/1
Beban Bunga
J-2
7.500









                                                            Modal                       Kode (No) Akun: 401
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit




1/1
SetoranNy Ayu
j-1
1.000.000









                                                            Peralatan Salon                    Kode (No) Akun: 205
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit
2/1
Beli tunai
J-1
300.000




7/1
Beli Kredit
J-1
500.000












                                                            Beban Sewa             Kode (No) Akun:   504
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit
5/1
Beban Januari
J-1
100.000













                                                      Perlengkapan Salon                    Kode (No) Akun: 107
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit
7/1
Beli Kredit
J-1
200.000












                                                            Hutang Dagang                    Kode (No) Akun: 301
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit
22/1
Angsur
J-2
200.000
7/1
Perl & Peralatn
J-1
700.000









                                                                 Hutang Wesel                    Kode (No) Akun: 303
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit




9/1
Hutang di Bank
j-1
750.000









                                                                 Penghasilan Jasa                 Kode (No) Akun: 601
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit




14/1
Hasil merias
j-1
450.000




20/1
Hasil merias
j-1
550.000









                                                                 Beban Gaji                       Kode (No) Akun: 501
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit
15/1
Beban Januari
J-1
150.000





















                                                                 Piutang Usaha               Kode (No) Akun: 102
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit
20/1
Pengh Jasa
J-1
300.000
29/1
diangsur
J-2
150.000

















                                                               Beban Listrik                       Kode (No) Akun: 503
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit
22/1
Beban Januari
J-2
75.000





















                                                                 Prive                                   Kode (No) Akun: 404
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit
30/1
Ambil Kas
J-2
100.000





















                                                                 Beban Bunga                     Kode (No) Akun: 508
Tgl
Keterangan
Ref
Debit
Tgl
Keterangan
Ref
Kredit
31/1
Kas
J-2
7.500























3. Buku Besar Pembantu
            Ada kalanya kita harus menyelenggarakan akun-akun buku besar pembantu. Buku besar pembantu (buku bantu) ini diselenggarakan dengan tujuan untuk membantu akun-akun buku besar  yang terdiri atas banyak unsur. Setiap unsur dari akun tersebut tidak dibuatkan akun buku besar satu persatu tetapi dibukukan dalam satu nama akun, sedangkan rinciannya dibukukan dalam akun buku bantu. Sebagai contoh,  perusahaan memiliki hutang dagang kepada 15 pemasok. Dengan demikian, ada 15 akun Hutang Dagang yang seharusnya dibuat oleh perusahaan. Namun, untuk membukukan hutang dagang tersebut perusahaan tidak perlu membuka akun buku besar hutang dagang sebanyak 15 buah, melainkan cukup satu akun buku besar yaitu akun Hutang Dagang.   Rincian hutang dagang tersebut, yakni hutang kepada setiap pemasok dibuatkan satu akun buku bantu, sehingga ada 15 akun buku bantu  yang harus dibuat untuk membantu akun Hutang Dagang tersebut.  Akun-akun buku besar lainnya yang memerlukan  rincian seperti contoh hutang dagang tersebut, misalnya piutang usaha (piutang dagang), beban gaji karyawan dan sejenisnya perlakuan pembukuannya sama dengan contoh hutang dagang tersebut.

a) Fungsi Buku Pembantu
            Berdasarkan uraian dan contoh tentang buku pembantu (bantu) di atas, kita dapat mengetahui bahwa buku tersebut memiliki fungsi sebagai (a)  alat pemerinci  dan (b) alat pengendali (kontrol).
(a)     Buku bantu dikatakan berfungsi sebagai  pemerinci, karena buku ini   merupakan rincian dari akun buku besar yang dibantu. Dari buku bantu dapat kita ketahui rincian secara detail isi  akun tersebut. Misalnya akun Hutang Dagang hanya berisi informasi tentang besarnya hutang, penyebab terjadinya (misal karena hutang uang, pembelian kredit, atau penyebab lainnya) kapan terjadinya, berapa yang sudah diangsur, dan kapan diangsur. Rincian tentang kepada siapa berhutang, berapa besar hutang kepada masing-masing kreditur,  bagai mana syarat pelunasan dan sebagainya  disajikan di akun-akun buku bantu.
(b)     Buku bantu berfungsi sebagai  alat pengendali (kontrol), karena dari buku ini kita dapat meneliti dan menguji kebenaran pencatatan di dalam akun buku besar yang bersangkutan.
b)  Proses Pencatatan dalam  Buku Bantu
Jenis dan jumlah akun buku bantu yang harus dibuat oleh masing-masing perusahaan tidaklah sama. Hal ini sangat tergantung dari skala usaha dan sifat usahanya. Perusahaan kecil yang usahanya tunggal dan sifatnya masih sederhana, frekuensi terjadinya transaksi pun tidak banyak, dan mitra usahanya belum banyak, terlebih-lebih jika transaksi keuangannya selalu dilakukan secara tunai, mungkin tidak perlu (belum memerlukan) buku bantu. Sebaliknya untuk perusahaan yang berskala besar, sifat usahanya sangat kompleks, frekuensi terjadinya transaksi sangat tinggi, mitra usahanya banyak, penyelenggaraan buku bantu mungkin sangat perlu.
Bentuk akun buku bantu dapat dibuat seperti bentuk akun buku besar, yakni berbentuk rekening huruf T atau berkolom. Bentuk mana yang dipilih, sangat tergantung dari pertimbangan masing-masing perusahaan  Hal penting yang perlu diingat adalah bahwa penyelenggaraan buku bantu tersebut harus dapat menyediakan informasi yang sesuai dengan fungsinya.
Proses pencatatan transaksi keuangan kedalam buku bantu secara edial dilakukan setiap hari atau setiap terjadinya transaksi tersebut. Namun ada kalanya, demi alasan efisiensi pencatatan dilakukan secara periodik (pada waktu-waktu tertentu). Mengingat bahwa buku bantu berfungsi sebagai alat kontrol (pengendali), maka pengisiannya harus didasarkan atas bukti transaksi. Tidak dibenarkan buku bantu di isi berdasarkan informasi dari jurnal seperti pengisian akun buku besar.

4. Neraca Sisa (Trial Balance)
            Pada waktu-waktu tertentu, misalnya bulanan, triwulanan, semesteran atau tahunan, kita perlu memeriksa ketelitian dan kebenaran dalam memosting ayat-ayat jurnal ke akun-akun  buku besar. Untuk menguji hal tersebut, dapat dibuat neraca saldo atau neraca sisa. Neraca ini berisi sisa (saldo) setiap akun buku besar. Jika pemostingan sudah dilakukan semua dan (kemungkinan) benar, maka jumlah kolom D dan kolom K dari  neraca saldo akan sama.
Dari contoh transaksi Salon Sekarkedaton yang telah dijurnal dan diposting dalam akun-akun buku besar di atas, jika dibuat neraca sisa akan diperoleh hasil sebagai berikut:

                                                            Salon Sekarkedaton
                                                                Neraca Saldo
                                                            Per 31 Januari 2012                
                                                                       
Kode  (No) Akun
Nama Akun
Debit
Kredit




101
Kas                          
1.662.500

102
Piutang Usaha              
150.000

107
Perlengkapan Salon
200.000

205
Peralatan Salon
800.000

301
Hutang Dagang

500.000
303
Hutang Wesel

750.000
401
Modal             

1.000.000
404
Prive                                        
100.000

501
Beban Gaji                            
150.000

503
Beban Listrik              
75.000

504
Beban Sewa
100.000

508
Beban Bunga
7.500

601
Penghasilan Jasa

1.000.000

Jumlah
3.2 50.000
3.250.000
                                                                                 


TUGAS
1.      Coba lihat kembali pekerjaan Anda dalam menyelesaikan tugas nomor 1 bagian II modul ini! Dari contoh transaksi keuangan yang telah Anda peroleh, catatlah kedalam (a) buku jurnal, (b) akun-akun buku besar, (c) buku bantu (jika diperlukan) dan (d) susun saldo akun-akun buku besar kedalam neraca saldo.
2.      Coba lihat kembali pekerjaan Anda dalam menyelesaikan tugas nomor 2 bagian II modul ini! Dari contoh transaksi keuangan Koperasi Simpan Pinjam yang telah Anda peroleh, catatlah kedalam (a) buku jurnal, (b) akun-akun buku besar, (c) buku bantu (jika diperlukan) dan (d) susun saldo akun-akun buku besar kedalam neraca saldo.
3.      Bukalah kembali contoh transaksi keuangan yang Anda peroleh untuk menyelesaikan Tugas nomor 3 bagian II Modul ini. Dari contoh transaksi keuangan yang dilakukan Penjahit yang telah Anda peroleh, catatlah kedalam (a) buku jurnal, (b) akun-akun buku besar, (c) buku bantu (jika diperlukan) dan (d) susun saldo akun-akun buku besar kedalam neraca saldo.
4.      Carilah contoh transaksi keuangan yang dilakukan oleh Tukang Pijat, Salon Kecantikan, atau pengusaha jasa lain yang ada di dekat tempat tinggal Anda. Ambil salah satu diantara pengusaha tersebut dan mintalah/catat transaksi keuangannya selama satu (1) periode.  Berdasarkan data ini lakukan pencatatan kedalam (a) buku jurnal, (b) akun-akun buku besar, (c) buku bantu (jika diperlukan) dan (d) susun saldo akun-akun buku besar kedalam neraca saldo.

EVALUASI
I. Jawablah semua pertanyaan berikut dengan cermat!
1.      Apakah tujuan penyelenggaraan jurnal? Jelaskan!
2.      Sebutkan 4 macam fungsi jurnal? Berikan penjelasan masing-masing fungsi tersebut!
3.      Berikanlah gambaran bentuk kolom jurnal!
4.       Apakah kelemahan yang paling menonjol jika suatu perusahaan tidak menyelenggarakan jurnal untuk mencatat transaksi keuangannya? Jelaskan!
5.      Informasi apakah yang dapat diperoleh dari Jurnal? Jelaskan!
6.      Jelaskan fungsi buku besar!
7.      Mengapakah akun buku besar perlu dibuat oleh perusahaan?
8.      (a) Jelaskanlah bentuk akun buku besar!
(b) Bentuk mana yang menurut Anda paling praktis? Jelaskan!
9.      Jelaskanlah  fungsi buku bantu!
10.  Mengapakah kita perlu menyusun Neraca Saldo? Jelaskanlah!

II. Kerjakanlah semua kasus berikut dengan teliti.
Panti pijit milik Ibu Siti selama semester I tahun 2006 melaksanakan transaksi berikut ini:
Januari 1 menyetorkan uang tunai Rp 35.000,00; perlengkapan senilai Rp 8.000,00 dan peralatan seharga Rp 50.000,00 untuk modal awal
2 menerima hasil jasa pijat Rp 15.000,00
5 menerima hasil jasa pijat Rp 30.000,00
10 membeli tunai perlengkapan Rp 20.000,00
20  menerima hasil jasa pijat Rp 45.000,00
29 menerima hasil jasa pijat Rp 30.000,00
31 membayar upah tukang pijat Rp 15.000,00
Februari 2 menerima hasil jasa pijat Rp 15.000,00
8 membeli perlengkapan tunai Rp 50.000,00
10 menerima hasil jasa pijat Rp 60.000,00
15 membayar ongkos perawatan peralatan Rp 5.000,00
20 menerima hasil jasa pijat Rp 30.000,00
26 menerima hasil jasa pijat Rp 30.000,00
Maret 5 menerima hasil jasa pijat Rp 15.000,00
12 menerima hasil jasa pijat Rp 60.000,00
18 membayar upah tukang pijat peralatan Rp 50.000,00
23 menerima hasil jasa pijat Rp 35.000,00
26 menerima hasil jasa pijat Rp 45.000,00
30  membeli  perlengkapan tunai Rp 30.000,00
April   3 menerima hasil jasa pijat Rp 75.000,00
14 menerima hasil jasa pijat Rp 60.000,00
18 membayar upah tukang pijat peralatan Rp 60.000,00
23 menerima hasil jasa pijat Rp 35.000,00
26 menerima hasil jasa pijat Rp 45.000,00
30  membeli  peralatan tunai Rp 100.000,00
Mei  6 menerima hasil jasa pijat Rp 45.000,00
14 menerima hasil jasa pijat Rp 20.000,00
18 membayar upah tukang pijat peralatan Rp 85.000,00
23 menerima hasil jasa pijat Rp 65.000,00
26 menerima hasil jasa pijat Rp 30.000,00
31  membayar sewa peralatan Rp 20.000,00
Juni       3 menerima hasil jasa pijat Rp 55.000,00
9 menerima hasil jasa pijat Rp 30.000,00
14 membayar upah tukang pijat peralatan Rp 80.000,00
23 menerima hasil jasa pijat Rp 35.000,00
29 menerima hasil jasa pijat Rp 30.000,00
Anda diminta untuk menusun:
(1) buku jurnal dan mencatat transaksi tersebut di dalamnya
(1)   akun-akun buku besar yang diperlukan dan memosting jurnal ke akun
(2)   menyusun neraca saldo
(3) KIRIMKAN JAWABAN MU KE Email: salmiaayumia@yahoo.com


SELAMAT BEKERJA



Abdullah
akuntansi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar